Ini Penyebab Bank Asing Rontok di RI, Ekonom & OJK Buka Suara

Ini Penyebab Bank Asing Rontok di RI, Ekonom & OJK Buka Suara

Ilustrasi kolase Citibank, Stanchart dan Commonwealth

Perlahan, bank asing hengkang dari industri perbankan Indonesia. Terbaru, Citi Indonesia asal Amerika telah melepaskan aset dan liabilitas bisnis ritelnya, dan akan fokus kepada bisnis perbankan korporasi.

Bank asal Inggris, Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) https://lahankasterbaik.quest/ juga sedang dalam proses menjual kredit ritelnya. Terbaru, PT OCBC NISP Tbk. (NISP) telah meneken pembelian saham 99,00% PT Bank Commonwealth (PTBC) milik Commonwealth Bank Australia (CBA).

Seiring dengan rontoknya bisnis bank asing di Indonesia, kinerja bank asing juga menurun. Menurut data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah penyaluran kredit yang diberikan bank luar negeri sebesar Rp170,21 triliun pada Agustus 2023. Jumlah itu turun 5,8% secara tahunan atau year on year (yoy).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menyebut eksposure Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) sampai dengan saat ini masih relatif terbatas dengan share penyaluran kredit sebesar 2,45% dari total penyaluran kredit Bank Umum posisi Agustus 2023.

Rasio pinjaman terhadap simpanan pun telah menurun menjadi 67,10% pada Agustus 2023 dari setahun sebelumnya sebesar 75,96%.

Jumlah KCBLN pun perlahan menyusut. Dari sebanyak 8 pada Agustus 2022, setahun kemudian tersisa 7 bank. Mengingatkan saja, sebelum Citi, SCBI, dan PTBC melepaskan bisnis retailnya di Indonesia, ada sejumlah bank asing yang telah meninggalkan Indonesia, yakni Rabobank Indonesia, Bank RBS Indonesia, Bank ANZ Indonesia, dan Bank Barclays Indonesia.

Menurut ekonom, bank asing memang susah bersaing di Indonesia jika merambah bisnis ritel. Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mengatakan bank asing lebih dapat bersaing untuk target pasar tertentu.

“Bank asing memang sulit bersaing di Indonesia kalau mau bermain di pasar ritel. Bank asing hanya dapat bersaing dan mendapatkan pasar untuk target pasar tertentu khususnya di perdagangan internasional serta pasar keuangan,” ujar Piter saat dihubungi CNBC Indonesia, dikutip Rabu (29/11/2023).

“Jadi wajar saja kalau penyaluran kreditnya terus turun dan LDR juga semakin rendah,” tambahnya.

Namun begitu, ia menyorot bahwa bank asing memiliki kinerja bottom line yang baik. Piter memandang bila perolehan labanya buruk, tidak ada lagi bank asing yang mau masuk ke Indonesia.

“Buktinya selalu ada bank asing yang melakukan akuisisi bank-bank di Indonesia,” pungkasnya.

Senada dengan hal pernyataan Piter itu, sebelumnya OJK mengatakan bahwa antusiasme investor asing untuk mengakuisisi bank di Indonesia cukup tinggi. Sebelumnya pada bulan Juli lalu, Dian mengungkapkan investor dari Jepang, Korea Selatan, dan Singapura akan segera mencaplok bank-bank lokal dalam waktu dekat.

“Bahkan permintaan dari kita dari Jepang dari Korsel dari negara tetangga Singapura sedang meningkat untuk bisa akuisisi bank lokal, dan saya kira performance bank-bank kita secara nasional bahwa di pasar modal juga jadi penggerak utama itu industri perbankan,” tandasnya saat Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner OJK, Selasa (4/7/2023) lalu.

Terkait dengan bank-bank asing yang telah meninggalkan Indonesia, Dian menilai bahwa itu merupakan bagian strategi global masing-masing. Dalam hal ini, ia berbicara tentang Citi Indonesia, SCBI, dan PTBC. Ketiga bank yang berasal dari barat tersebut dinilai berbeda dengan investor asing dari Asia yang justru semakin minat untuk berinvestasi di Indonesia.

“Strategi tersebut berbanding terbalik dengan institusi keuangan yang berasal dari Asia (Singapura, China, Korea Selatan, dan Jepang) dengan risk appetite yang semakin meningkat untuk berinvestasi di Indonesia yang ditunjukkan dengan perkembangan yang relatif tinggi dalam beberapa waktu terakhir, baik dari sisi aset maupun penyaluran kredit,” ujar Dian.

Otoritas pun menyambut baik aksi korporasi yang dilakukan secara business to business tersebut dan mengharapkan Citi Indonesia, SCBI, dan OCBC dapat lebih fokus dalam meningkatkan fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit yang lebih berdaya saing dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Selain itu, langkah tersebut diharapkan dapat menjadi katalis penguatan dan peningkatan daya saing perbankan nasional,” pungkas Dian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*