Xi Jinping Murka! 9 Pekerja Tambang China Tewas di Afrika

Presiden China Xi Jinping menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2022, Jumat, (4/2/2022) (Anthony Wallace/Foto Kolam Renang via AP)

Sembilan pekerja tambang China tewas dalam serangan di Republik Afrika Tengah. Menanggapi kabari ini, Presiden China Xi Jinping pada Senin (20/3/2023) meminta para pelaku dihukum.

Kementerian luar negeri China mengkonfirmasi jumlah korban, dan Xi meminta pihak berwenang di Republik Afrika Tengah untuk menghukum beret mereka yang berada di balik pembunuhan tersebut.

“Presiden telah memerintahkan upaya habis-habisan untuk merawat yang terluka, menangani akibatnya tepat waktu, menghukum berat pelaku sesuai dengan hukum, dan memastikan keselamatan warga negara China,” kata seorang juru bicara kementerian luar negeri China yang tidak disebutkan namanya dalam sebuah pernyataan, dikutip dariĀ AFP.

Wali kota setempat Abel Matchipata sebelumnya menyebut serangan oleh orang-orang bersenjata terjadi sekitar pukul 5 pagi di dekat Bambari. Ia juga mengatakan sebanyak sembilan mayat dan dua orang luka-luka, menyebut para korban adalah pekerja China di sebuah lokasi yang dijalankan oleh Gold Coast Group, 25 kilometer dari kotanya.

Otoritas setempat tidak merilis rincian lebih lanjut dari serangan itu, juga tidak ada klaim tanggung jawab.

Jenazah para korban dipindahkan ke rumah sakit di ibu kota Bangui, di mana duta besar China Li Qinfeng dan Menteri Luar Negeri CAR Sylvie Baipo Temon hadir di sana.

Konflik sipil melanda Republik Afrika Tengah, salah satu negara termiskin di dunia, sejak 2013. Ini terjadi ketika kelompok bersenjata yang didominasi Muslim menggulingkan presiden Francois Bozize.

Dalam sebuah pernyataan pada Minggu, Koalisi Patriot untuk Perubahan (CPC), aliansi kelompok pemberontak yang dibentuk pada Desember 2020 untuk menggulingkan Presiden Faustin Archange Touadera, membantah terlibat dalam serangan itu.

Kelompok tersebut mengecam tindakan tercela dan biadab dan menuduh kelompok tentara bayaran Wagner Rusia berada di balik pembunuhan tersebut.

Pada 2020, Presiden Touadera meminta Moskow untuk membantu pasukannya yang lemah, setelah kelompok bersenjata menguasai dua pertiga negara dan mulai menyerang Bangui.

Ratusan paramiliter Rusia kemudian bergabung dengan beberapa ratus yang sudah hadir sejak 2018, menangkis serangan pemberontak dan mendorong mereka keluar dari sebagian besar wilayah dan kota yang mereka kuasai.

Wagner adalah salah satu kelompok Rusia paling menonjol yang hadir di Afrika, serta memainkan peran besar dalam konflik lain, seperti invasi Moskow ke Ukraina.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*